Jumat, 15 November 2019
Ku Hanya Memandang Punggungmu Ketika Ku Tak Berani Memandang Wajahmu
Sikap sebagai ekspresi tubuh ketika pikiran memberikan respon terhadap suatu objek tertentu. Ekspresi yang dimanifestasikan bisa berwujud gerakan dan perasaan. Gerakan sebagai sikap yang dapat dilihat secara fisik lewat panca indra manusia, sedangkan perasaan tudak dapat kita lihat secara fisik, namun dengan kepekaan mungkin bisa kita rasakan. Sikap canggung dapat dilihat dari gerakan yang spontan dilakukan oleh manusia. Melihat gerakan yang spontan ini terkesan aneh bila orang yang tidak mempunyai kepekaan, namun bagi mereka yang peka akan menganggap bahwa itu merupakan gerakan spontan akibat canggung. Di sisi lain, hal yang agak sulit yaitu sikap yang termanifestasikan lewat perasaan akibat canggung.
Berkenaan pada perasaan yang sulit bagi orang lain rasakan akibat canggung tersebut menjadi pertanyaan dan belum ada jawabannya. Sikap yang hanya bisa dirasakan oleh masing-masing pribadi tersebut akan terus berlanjut sampai kemudian berkurang dan akhirnya hilang. Sebagai seorang manusia biasa yang sulit merasakannya, akan sulit untuk mendeskripsikannya.
Kemudian, jika perasaan tersebut hanya bisa dirasakan oleh pribadi masing-masing, maka dalam tulisan ini saya mencoba menuliskan rasa canggung yang saya rasakan terhadap seseorang. Saya sebagai pribadi yang terkesan cuek, namun bukan berarti kecuekan yang saya miliki membuat saya tidak mempunyai rasa canggung. Kecanggungan saya sebagai pribadi yang cuek ketika bertemu atau hanya berpapasan dengan seseorang yang saya sukai atau orang yang saya kagumi.
Selanjutnya, jika saat berpapasan atau bertemu itulah rasa canggung itu tiba-tiba hadir, bahkan untuk menyapa dahulu saja saya harus mengontrol emosi saya supaya ketika berbicara tidak terbata-bata. Ketika saya sudah merasa tenang setelah menarik napas panjang, barulah saya mencoba menyapa atau bahkan sekedar tersenyum. Awal yang baik maka akan dilanjutkan dengan tindakan selanjutnya, berbincang basa-basi menanyakan kabar atau kesibukan apa yang tengah dijalani. Sekedar membuang keheningan apabila tidak berbicara sama sekali. Memang awalnya tanggapan biasa saja yang saya peroleh, namun saya tetap mencoba lagi bertanya kepadanya meski terkesan frontal, sebab tidak ada tema khusus yang saya pakai, ini sama halnya saya menanyakan apa saja yang sekiranya ada di dalam pikiran saya. Biarlah, meski hanya berbasa-basi tapi bisa dekat dengannya sudah membuat saya senang.
Selanjutnya, setelah pembicaraan yang tidak ada temanya tadi sudah berada di ujung pembahasan, dimana pertanyaan frontal yang terus saya ajukan kepadanya sudah tidak tersisa lagi, mulailah hening kembali sebab tidak ada jawaban yang bisa dia jawab. Kemudian, ketika rasa canggung itu kembali muncul, beranjaklah dia pergi dari saya dan berpisahlah kami. Di saat berpalingnya dia untuk beranjak pergi ketempat lain, muncul penyesalan pada diri saya ketika momen pertemuan antara dia dengan saya yang tidak bisa saya eksekusi dengan baik. Momen dimana ketika percakapan berlangsung saya tidak berani menatap wajahnya. Wajah yang selama ini hanya bisa saya pandangi dari jauh dan saya tutupi dengan cara berpura-pura membuang muka darinya saat dekat dengannya. Jika momen percakapan kami terulang kembali pun saya tetap kawatir jika terulang kembali disaat sikap saya yang tidak memandang wajahnya meskipun saya sangat ingin melakukannya. Disaat dia perpaling untuk beranjak pergi, yang bisa saya lakukan hanyalah memandang punggungnya. Punggung yang selalu saya pandangi darinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Terimakasih sudah singgah di blog saya.
BalasHapus