Perjalanan saya menuju kampong inggris
di Pare apabila dihitung berdasarkan waktu dan jarak tempuh tidaklah lama dan
jauh, namun kondisi selama perjalanan yang harus berimpitan dengan penumpang
lain mengakibatkan ketidaknyamanan tersendiri bagi saya pribadi, sebab posisi
yang tidak leluasa untuk bergerak atau bahkan hanya untuk miring sedikit kearah
jendela bus terasa sulit untuk dilakukan. Kondisi di dalam bus yang saya
tumpangi memang tidak luas jadi sesama penumpang harus mengerti dan tidak
banyak protes huhuhu. Kondisi yang tidak nyaman terkadang juga bisa
mempengaruhi kondisi tubuh seperti lemas, capek, dan mengantuk. Namun, diluar
daripada itu ketika sampai ke lokasi ada sensasi kepuasan dan lega sebab sudah
tiba dengan selamat.
Setibanya saya di Pare ternyata
masih harus menempuh perjalanan sedikit lagi untuk tiba di kampong inggris
jaraknya kurang lebih satu kilometer. Perjalanan dari penurunan bus sampai ke kampong
inggris bisa ditempuh dengan menggunakan ojek atau ojek online. Pare sudah
menjadi destinasi dan sumber pendapatan daerah, maka tidak heran jika sedikit
lebih maju dibandingkan tempat lain di Kediri sehingga ojol sudah banyak
tersebar di kampong inggris. Saya pribadi menyarankan untuk menggunakan ojol
saja, karena biaya disesuaikan dengan jarak dan lebih pasti aja tidak perlu
tawar menawar dengan driver.
Kemudian sesampainya saya di kampung
inggris dan menemukan lokasi bimbingan belajar b.inggris yang saya cari. Saya
melakukamn pendaftaran administrasi untuk membayar biaya program selama satu
bulan yang meliputi kos dan modul. Setelah itu saya diantarkan ke tempat kos
putra untuk istirahat. Kos yang saya tinggali berlokasi tidak jauh dari tempat
belajar, sehingga saya mudah untuk tiba di tempat belajar tepat waktu.
Fasilitas yang ada di kos putra tempat saya menginap pun cukup bagus. Luas
kamar cukup luas yang mana dapat ditempati sampai tiga orang dalam satu kamar.
Kamar mandi di dalam kamar, jadi tidak perlu keluar ruangan dan bergantian
dengan penghuni kamar lain. Fasilitas pendukung lainnya seperti kasur lipat,
lemari baju juga sudah disiapkan.
Kemudian waktu istirahat saya
sebelum memulai belajar terhitung cukup lama, sebab masih ada proses transisi
dari periode sebelumnya ke periode saya saat ini. Waktu istirahat saya gunakan
untuk tidur pada hari pertama, jalan-jalan kampong inggris pada hari kedua,
mencari teman di hari ketiga, dan menyesuaikan dengan lokasi mencari makan di
hari keempat supaya saya tau tempat makan yang sesuai dengan uang saku saya.
Untuk waktu istirahat hari pertama saya terasa membosankan sebab hanya
berbaring di kasur dan keluar untuk isoma, namun waktu tidur tersebut saya
manfaatkan untuk memulihkan kondisi tubuh saya yang agak letih waktu
perjalanan. Selanjnya untuk waktu istirahat kedua sampai keempat kondisi tubuh
saya telah pulih, maka saya manfaatkan dengan semangat untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan.
Selama saya kos untuk ukuran
kamar yang cukup luas yang mana dapat ditempati hingga tiga orang, maka sudah
pasti ada orang lain yang kos di dalam kamar yang sama. Teman sekamar saya
berasal dari Jambi, Balikpapan, dan Papua. Latar belakang mereka juga
berbeda-beda, orang yang berasal dari Jambi baru lulus SMA dan mau melanjutkan
kuliah, yang dari Balikpapan statusnya mahasiswa di jogja, dan yang dari Papua
baru lulus SMA. Teman sekamar saya mempunyai cirri khas masing-masing ketika
bergaul dan saat berbicara. Logat khusus yang khas sesuai dari daerah asal
mereka masing-masing. Kholiq, teman saya dari Jambi gaya bahasa yang khas
melayu dan tidak menggunakan kata aku atau saya tapi “kami” untuk menyebutkan
dirinya. Ketika saya menanyakan alasannya menggunakan kami dan bukan aku, dia
menjawab karena di dalam alquran kata kami untuk menyebutkan diri. Kholiq
adalah siswa lulusan pesantren yang setara dengan SMA juga, maka pendidikan
umum juga seimbang dengan pendidikan agamanya. Kholig bercita-cita untuk
melanjutkan pendidikan tinggi ke Mesir, memang dari SMA dia mau kuliah di
universitas kairo. Kholiq sendiri untuk mewujudkan untuk bisa kuliah di Mesir
berusaha belajar bahasa inggris di kampong inggris, tak heran jika dia
mengambil program khusus selama tujuh bulan untuk belajar bahasa inggris,
makanya dia sampai duluan di sana dari pada saya yang datang setelahnya. Teman
sekamar saya yang kedua Yosua dia berasal dari Balikapapan, namun kuliah di U_KRIM
jogja. Motivasi belajar bahasa inggris dikampung inggris menurut si Yos adalah
untuk menaikkan skor toefl. Yos belajar bahasa inggris di kampung inggris
mengambil program selama satu bulan sama dengan saya. Selama belajar keuinikan
yang Yos lakukan adalah sering menelpon pacar entah itu sore atau malam,
biarlah long distance relationship dengan pacar nan jauh di Balikpapan tidaklah
mudah untuk dilalui. Teman sekamar saya yang ketiga bernama Yado, asalnya dari
Papua namun cukup lama menetap di jawa. Motivasi belajar bahasa inggris di kampung
inggris, karena Yado ingin sekolah seperti kedinasan yang menjurus ke kepolisian
macam akpol, namun dia ingin menambah kemampuan bahasa inggrisnya dulu untuk
menunjang kualifikasinya lebih baik lagi.
Kampung inggris merupakan lokasi yang dapat mempertemukan kami yang notabene berasal dari daerah yang berbeda di Indonesia, namun karena mempunyai tujuan yang sama maka disini kami dipertemukan sebagai seorang sahabat. Sebulan lamanya di kampung inggris sudah lebih dari cukup bagi kami untuk mengenal satu sama lain. Selama sebulan juga, kami sering menghabiskan waktu bersama untuk berbincang bersama, berkumpul, atau bahkan bersepeda bersama berkeliling sekitaran kampung inggris. Awa mula pertemanan bagi kami seperti sering menghabiskan waktu bermain bersama. Intensitas yang lebih dalam berkumpul dan bermain akan memberikan kemistri terhadap pertemanan yang sedang dirintis. Sebagai manusia sosial maka menjadi hal yang lumrah bila semakin berkumpul bersama kawan baru akan menambah pengetahuan tentang bagaimana caranya bersikap dengan orang yang bahkan berasal dari suku dan pulau yang berbeda.
Perbedaaan suku, budaya, dan agama kami sikapi dengan mencari persamaannya dalam hal bersosialisasi dengan sesama manusia. Persamaan yang kami temukan kemudian dijadikan dasar untuk membangun rasa saling menghargai satu sama lain. Meskipun, perbedaan itu terkadang membutuhkan toleransi, namun pada umumnya kami menitikberatkan pada persamaan yang ada. Namun, lambat laun perbedaan tersebut akan memudar dan berganti menjadi persamaan yakni sama-sama dari Negara Indonesia.
Pada akhirnya nilai yang dapat dipetik adalah perbedaan suku, budaya, agama dan lain sebagainya janganlah disikapi secara "keakuan" atau menurut diri pribadi sebab masing-masing orang mempunyai pendapatnya masing-masing dan bisa saja berbeda dari pendapat kita, Sikapilah dari sisi persamaannya yang bisa diambil dari nilai moralnya dan menjadikannya sebuah pelajaran bahwasannya sebagai makhluk sosial pasti hidup ini tidaklah sendirian, maka sudah sewajarnya untuk disikapi secara rasional, sehingga kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara di Indonesia menjadi rukun, aman, dan damai.
Kampung inggris merupakan lokasi yang dapat mempertemukan kami yang notabene berasal dari daerah yang berbeda di Indonesia, namun karena mempunyai tujuan yang sama maka disini kami dipertemukan sebagai seorang sahabat. Sebulan lamanya di kampung inggris sudah lebih dari cukup bagi kami untuk mengenal satu sama lain. Selama sebulan juga, kami sering menghabiskan waktu bersama untuk berbincang bersama, berkumpul, atau bahkan bersepeda bersama berkeliling sekitaran kampung inggris. Awa mula pertemanan bagi kami seperti sering menghabiskan waktu bermain bersama. Intensitas yang lebih dalam berkumpul dan bermain akan memberikan kemistri terhadap pertemanan yang sedang dirintis. Sebagai manusia sosial maka menjadi hal yang lumrah bila semakin berkumpul bersama kawan baru akan menambah pengetahuan tentang bagaimana caranya bersikap dengan orang yang bahkan berasal dari suku dan pulau yang berbeda.
Perbedaaan suku, budaya, dan agama kami sikapi dengan mencari persamaannya dalam hal bersosialisasi dengan sesama manusia. Persamaan yang kami temukan kemudian dijadikan dasar untuk membangun rasa saling menghargai satu sama lain. Meskipun, perbedaan itu terkadang membutuhkan toleransi, namun pada umumnya kami menitikberatkan pada persamaan yang ada. Namun, lambat laun perbedaan tersebut akan memudar dan berganti menjadi persamaan yakni sama-sama dari Negara Indonesia.
Pada akhirnya nilai yang dapat dipetik adalah perbedaan suku, budaya, agama dan lain sebagainya janganlah disikapi secara "keakuan" atau menurut diri pribadi sebab masing-masing orang mempunyai pendapatnya masing-masing dan bisa saja berbeda dari pendapat kita, Sikapilah dari sisi persamaannya yang bisa diambil dari nilai moralnya dan menjadikannya sebuah pelajaran bahwasannya sebagai makhluk sosial pasti hidup ini tidaklah sendirian, maka sudah sewajarnya untuk disikapi secara rasional, sehingga kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara di Indonesia menjadi rukun, aman, dan damai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar