Sabtu, 23 November 2019

PART-2 Teman Se-Nusantara Ada Di TEST English School Pare Kediri " Kampung Inggris "


Perjalanan saya menuju kampong inggris di Pare apabila dihitung berdasarkan waktu dan jarak tempuh tidaklah lama dan jauh, namun kondisi selama perjalanan yang harus berimpitan dengan penumpang lain mengakibatkan ketidaknyamanan tersendiri bagi saya pribadi, sebab posisi yang tidak leluasa untuk bergerak atau bahkan hanya untuk miring sedikit kearah jendela bus terasa sulit untuk dilakukan. Kondisi di dalam bus yang saya tumpangi memang tidak luas jadi sesama penumpang harus mengerti dan tidak banyak protes huhuhu. Kondisi yang tidak nyaman terkadang juga bisa mempengaruhi kondisi tubuh seperti lemas, capek, dan mengantuk. Namun, diluar daripada itu ketika sampai ke lokasi ada sensasi kepuasan dan lega sebab sudah tiba dengan selamat.
Setibanya saya di Pare ternyata masih harus menempuh perjalanan sedikit lagi untuk tiba di kampong inggris jaraknya kurang lebih satu kilometer. Perjalanan dari penurunan bus sampai ke kampong inggris bisa ditempuh dengan menggunakan ojek atau ojek online. Pare sudah menjadi destinasi dan sumber pendapatan daerah, maka tidak heran jika sedikit lebih maju dibandingkan tempat lain di Kediri sehingga ojol sudah banyak tersebar di kampong inggris. Saya pribadi menyarankan untuk menggunakan ojol saja, karena biaya disesuaikan dengan jarak dan lebih pasti aja tidak perlu tawar menawar dengan driver.
Kemudian sesampainya saya di kampung inggris dan menemukan lokasi bimbingan belajar b.inggris yang saya cari. Saya melakukamn pendaftaran administrasi untuk membayar biaya program selama satu bulan yang meliputi kos dan modul. Setelah itu saya diantarkan ke tempat kos putra untuk istirahat. Kos yang saya tinggali berlokasi tidak jauh dari tempat belajar, sehingga saya mudah untuk tiba di tempat belajar tepat waktu. Fasilitas yang ada di kos putra tempat saya menginap pun cukup bagus. Luas kamar cukup luas yang mana dapat ditempati sampai tiga orang dalam satu kamar. Kamar mandi di dalam kamar, jadi tidak perlu keluar ruangan dan bergantian dengan penghuni kamar lain. Fasilitas pendukung lainnya seperti kasur lipat, lemari baju juga sudah disiapkan.
Kemudian waktu istirahat saya sebelum memulai belajar terhitung cukup lama, sebab masih ada proses transisi dari periode sebelumnya ke periode saya saat ini. Waktu istirahat saya gunakan untuk tidur pada hari pertama, jalan-jalan kampong inggris pada hari kedua, mencari teman di hari ketiga, dan menyesuaikan dengan lokasi mencari makan di hari keempat supaya saya tau tempat makan yang sesuai dengan uang saku saya. Untuk waktu istirahat hari pertama saya terasa membosankan sebab hanya berbaring di kasur dan keluar untuk isoma, namun waktu tidur tersebut saya manfaatkan untuk memulihkan kondisi tubuh saya yang agak letih waktu perjalanan. Selanjnya untuk waktu istirahat kedua sampai keempat kondisi tubuh saya telah pulih, maka saya manfaatkan dengan semangat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Selama saya kos untuk ukuran kamar yang cukup luas yang mana dapat ditempati hingga tiga orang, maka sudah pasti ada orang lain yang kos di dalam kamar yang sama. Teman sekamar saya berasal dari Jambi, Balikpapan, dan Papua. Latar belakang mereka juga berbeda-beda, orang yang berasal dari Jambi baru lulus SMA dan mau melanjutkan kuliah, yang dari Balikpapan statusnya mahasiswa di jogja, dan yang dari Papua baru lulus SMA. Teman sekamar saya mempunyai cirri khas masing-masing ketika bergaul dan saat berbicara. Logat khusus yang khas sesuai dari daerah asal mereka masing-masing. Kholiq, teman saya dari Jambi gaya bahasa yang khas melayu dan tidak menggunakan kata aku atau saya tapi “kami” untuk menyebutkan dirinya. Ketika saya menanyakan alasannya menggunakan kami dan bukan aku, dia menjawab karena di dalam alquran kata kami untuk menyebutkan diri. Kholiq adalah siswa lulusan pesantren yang setara dengan SMA juga, maka pendidikan umum juga seimbang dengan pendidikan agamanya. Kholig bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Mesir, memang dari SMA dia mau kuliah di universitas kairo. Kholiq sendiri untuk mewujudkan untuk bisa kuliah di Mesir berusaha belajar bahasa inggris di kampong inggris, tak heran jika dia mengambil program khusus selama tujuh bulan untuk belajar bahasa inggris, makanya dia sampai duluan di sana dari pada saya yang datang setelahnya. Teman sekamar saya yang kedua Yosua dia berasal dari Balikapapan, namun kuliah di U_KRIM jogja. Motivasi belajar bahasa inggris dikampung inggris menurut si Yos adalah untuk menaikkan skor toefl. Yos belajar bahasa inggris di kampung inggris mengambil program selama satu bulan sama dengan saya. Selama belajar keuinikan yang Yos lakukan adalah sering menelpon pacar entah itu sore atau malam, biarlah long distance relationship dengan pacar nan jauh di Balikpapan tidaklah mudah untuk dilalui. Teman sekamar saya yang ketiga bernama Yado, asalnya dari Papua namun cukup lama menetap di jawa. Motivasi belajar bahasa inggris di kampung inggris, karena Yado ingin sekolah seperti kedinasan yang menjurus ke kepolisian macam akpol, namun dia ingin menambah kemampuan bahasa inggrisnya dulu untuk menunjang kualifikasinya lebih baik lagi.

Kampung inggris merupakan lokasi yang dapat mempertemukan kami yang notabene berasal dari daerah yang berbeda di Indonesia, namun karena mempunyai tujuan yang sama maka disini kami dipertemukan sebagai seorang sahabat. Sebulan lamanya di kampung inggris sudah lebih dari cukup bagi kami untuk mengenal satu sama lain. Selama sebulan juga, kami sering menghabiskan waktu bersama untuk berbincang bersama, berkumpul, atau bahkan bersepeda bersama berkeliling sekitaran kampung inggris. Awa mula pertemanan bagi kami seperti sering menghabiskan waktu bermain bersama. Intensitas yang lebih dalam berkumpul dan bermain akan memberikan kemistri terhadap pertemanan yang sedang dirintis. Sebagai manusia sosial maka menjadi hal yang lumrah bila semakin berkumpul bersama kawan baru akan menambah pengetahuan tentang bagaimana caranya bersikap dengan orang yang bahkan berasal dari suku dan pulau yang berbeda.

Perbedaaan suku, budaya, dan agama kami sikapi dengan mencari persamaannya dalam hal bersosialisasi dengan sesama manusia. Persamaan yang kami temukan kemudian dijadikan dasar untuk membangun rasa saling menghargai satu sama lain. Meskipun, perbedaan itu terkadang membutuhkan toleransi, namun pada umumnya kami menitikberatkan pada persamaan yang ada. Namun, lambat laun perbedaan tersebut akan memudar dan berganti menjadi persamaan yakni sama-sama dari Negara Indonesia.

Pada akhirnya nilai yang dapat dipetik adalah perbedaan suku, budaya, agama dan lain sebagainya janganlah disikapi secara "keakuan" atau menurut diri pribadi sebab masing-masing orang mempunyai pendapatnya masing-masing dan bisa saja berbeda dari pendapat kita, Sikapilah dari sisi persamaannya yang bisa diambil dari nilai moralnya dan menjadikannya sebuah pelajaran bahwasannya sebagai makhluk sosial pasti hidup ini tidaklah sendirian, maka sudah sewajarnya untuk disikapi secara rasional, sehingga kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara di Indonesia menjadi rukun, aman, dan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar