Pernah dilamunan saya berpikir bahwa kondisi yang seperti ini terasa sangat tidak sesuai dengan harapan. Kondisi dimana saya merasakan, bila kesulitan ini berat dan seharusnya tidak berada pada tingkat kesulitan yang setinggi ini. Pikiran saya menjadi bercabang apabila kemudian melihat kondisi yang dialami oleh orang lain, bencana alam misalnya dan setelah itu timbul lagi pikiran yang sama dan terus berulang. Berpikiran yang membuat hidup ini terasa hanya berada pada titik sulit dan jauh dari ketenangan yang diidamkan. Sulit yang selalu terpikirkan selalu mengenai masalah yang sama. Merasa sulit ketika ada kebutuhan sehari-hari yang rutin digunakan, sulit dengan kebutuhan pembiayaan untuk pendidikan, sulit mendapatkan kemudahan dalam fasilitas. Berbagai pikiran yang intinya membuat saya selalu berada di titik jenuh, untuk kemudian berpikir seharusnya saya harus lebih banyak bersyukur atas karunia dan nikmat yang sudah saya terima dari Allah SWT. Beban kesulitan itu pasti sudah disesuaikan dengan kemampuan, sebab cobaan itu tidak mungkin diberikan oleh Allah SWT melebihi kemampuan hambanya. Atas apa yang dialami secara terus-menerus dan kemampuan yang terbatas untuk mengatasi ini, yang memunculkan anggapan bahwa kesulitan ini tidak mudah. Kemudian saya berpikir apakah wujud cobaan itu hanya berupa kesulitan saja? Apakah kebahagiaan itu tidak termasuk cobaan ? Pernah saya berpikir kalau orang yang tidak pernah merasa sulit itu jarang terkena cobaan, sebab hidupnya mapan dan segala kebutuhan sudah terpenuhi. Ternyata pandangan saya itu malah membuat saya hedonis yang menganggap kesenangan itu adalah kebahagiaan dunia. Orang awan seperti saya di dalam memaknai kesulitan hidup membuat banayak bertanya-tanya mengenai, seperti apakah wujud kesenangan itu ? Kalaupun saya selalu senang pasti saya selalu merasa cukup, karena kebutuhan saya selalu terpenuhi. Apabila saya senang maka hidup saya bahagia. Kemudian saya juga berpikir apakah kesenangan yang seperti itu sifatnya kekal? Misalkan nanti kalau banjir gimana, atau misal nanti ketiban pohon rumahnya gimana atau lebih-lebih ada gempa bumi gimana kondisi rumah dan isinya? masih utuh apa tidak, ada yang berkurang atau tidak. Selama penjajakan menuju kedewasaan tentu pola pikir yang seperti itu akan berkurang sebab, manusia itu dari kecil akan tumbuh besar dan dewasa sebulum akhirnya menua dan mati.
Kesulitan itu tidak selalu dimaknai dengan suatu hal yang terjadi karena kondisi, sebab berada pada kondisi dimana ekonomi keluarga yang belum memenuhi tingkat kebutuhan yang diharapkan. Kemudian menjadi acuan dalam membuat analogi-analogi berkenaan dengan ketidakbahagiaan yang dirasakan. Berpikir realistis itu memang sulit dalam hal memaknai berkenaan kondisi seperti ini. Tapi apabila dapat membuat diri kita berpikir realistis dengan menganggap inilah hidup kita yang senyata-nyatanya. Berpikir juga, kesalahan ini adakah kaitannya dengan perbuatan sehari-hari yang telah kita lakukan, benarkan behavior atau tingkahlaku kita itu pleas sudah menyenangkan atau malah unpleasent treatmen atau malah tidakmenyenangkan terhadap orang lain? Kenapa bisa seperti ini dijadikan masukan dalam hal mengenai, sudah baikkah kelakuan kita selama ini terlebih pada tetangga rumah. Karena kita itu harus memulyakan tetangga dengan berbuat tidak menyakiti dan tidak membuat tetangga itu dalam keadaan tidak nyaman bahkan lebih-lebih terasa terancam atas kelakuan kita selama ini. Salah satu hal yang membuat pintu rejeki manusia itu tidak lancar adalah karena tidak menghormati tetangga kita dan berperikelakuan yang tidak baik terhadapnya ditambah keadaan-keadaan lain. Keadaan lain itu misalnya apakah dengan lisan atau tilisan atau membuat berita palsu bahkah sampai memfitnah.
Berbenah untuk membuat diri kita menjadi lebih baik dan membuat hidup terhindar dari kesulitan hidup yang dialami. Faktor yang menimbulkan itu jangan hanya dianalogikan berada pada kondisi saja tapi kaitkan juga dengan sudah baikkah perbuatan kita. Saya pribadi masih banyak kekhilafan dan masih butuh berbenah ke arah yang lebih baik. Butuh proses dan waktu yang banyak dalam beribadah dan memikirkan apa saja perbuatan yang kurang baik yang telah saya lakukan dalam waktu yang lama ini. Apabila saya salah semoga lidah saya ini dikuatkan supaya bisa berkata maaf. Apabila saya mendapat nikmat dan karunia dari Allah SWT semoga saya diberikan kekuatan untuk dimudahkan berkata alhamdulillah dan mengucapkan terimakasih.
Kedepannya semoga saya dan kita semua diberi kekuatan untuk mawas diri dan berusaha memperbaiki diri ke arah kebaikan.
Terimakasih sudah singgah di blog saya.
BalasHapus